Bersyukur

Dan kadang satu waktu itu aku hanya ingin bilang terima kasih padamu,

Padamu yang selalu memperlakukanku layaknya benar-benar perempuan

Padamu yang selalu menjaga dan memahamiku dengan baik

Padamu yang aku entah bagainana bisa yakin bahwa kamu salah satu orang yang juga mendoakanku selain orang tuaku..

Padamu yang baik,

Semoga kamu dan aku pada jalan yang baik, menuju jalan yang lebih baik, di waktu yang baik menurut Sang Maha Baik..

😊😊😊

alhamdulillah,

Advertisements

Andalas Berkembang πŸ˜…

Dia sudah besar. Bener-bener besar πŸ˜…πŸ˜…

Selalu berharap yang terbaik buat dia, buat hidupnya di masa depan.

Yang udah gak mau dibilang anak SMA padahal ya baru lulus, ieeyyuhh 😀 maunya dibilang anak kuliahan, anjay banget.

Waktunya bersiap-siap pulang, waktunya bersiap-siap pulang Kapten. Tugas hampir sudah selesai. 😎

Jadilah baik,

Karena dengan kita baik, semoga orang lain juga baik pada kita. Baik disaat kita sedang kondisi tidak baik maupun baik saat kondisi kita juga baik.

Baiklah, karena setiap kebaikan akan dibalas kebaikan oleh Gusti Allah. Baiklah, karena itu akan menjadi tabungan kebaikanmu. Satu satu satu. Dan akan mengikuti sampai kamu tua. Dan diantara banyak kejadian hidup yang mewarnai, akan ada kebaikan yang kamu tuai disana. Berwarna ungu dan biru yang menambah bingar hidupmu diantara kelabu. Siapa tahu, Allah Maha Pemberi Kejutan. Kan?

Baiklah,

Tidak usah takut disakiti. Karena kita punya Tuhan yang Maha Baik. Sakit wajar. Karena kita hanya manusia. Berbuat baik adalah kebutuhan kita, bukan orang lain. Jika orang lain menyakiti maka itu urusan dia dengan Tuhannya. Urusan kita dengan Gusti Allah hanya berusaha berbuat baik.

Jika kebaikanmu disalah artikan, berdoalah semoga tetap ada kebaikan yang datang padamu juga kepada dia. Semoga Allah selalu melindungi kita yang berusaha baik saat sudah baik, belum baik, akan baik.

Tidak ada pengorbanan tanpa kebaikan. Sungguh. Pengorbanan bukan hitungan. Karena berusaha baik kepada semua orang adalah keharusan. Karena kita manusia yang punya tauladan Nabi Muhammad dan Tuhan, Gusti Allah Sang Maha Kebaikan.

Jadi, sudah baik apa kamu hari ini?

Cukup tersenyum dan berdoa untuk orang2 yang kamu sayangi disekitarmu. Itu juga adalah kebaikan. 😘

Jogja,

Saat flu terlalu betah, bibir pecah2 dan bau gas yang bikin muntah..pita masak sayur lombok..

Lan Jalan

Ceritanya sedang sama-sama berat badannya nambah. Otomatis pipi nambah, lengan juga, paha apalagi. Eits, yang paling parah apa? Ha? Iya bener. Perut gaesss.

Omg. Dari berat 47 kg ke 52kg dan sekarang 57kg. Gendeng. Gendeng. Kok bisa? Ya bisalah. Gimana nggak coba. Makan enak terus, bahagia terus, ketawa terus sampe gigi kering dan nangis. Tiap makan nambah porsi, bukan aku sih yang nambah porsi tapi si Mas Budi. Ah, tetep aja. Kalo dia nambah mah udah bisa dipastikan saya juga kena nasinya. 😌

Setahunan sama dia naiknya segitu. Hahaha. Dan inilah sekarang yang sedang diusahakan. 😁

Seringnya sendiri. Tapi kalo Mas Budi libur selo ya jadi berdua..hehehe

Olahraga ini gak hanya di sponsori oleh perut yang makin menjulang dan njelei. Tapi juga sembelit yang sudah betah, ketambahan dengan sakit yang keseringan. Mau gak mau kudu atur jadwal tidur, jadwal makan, ngatur makan dan ditambah kudu olahraga. Minimal jalan kaki 30 menit. Minimal itu.

Semoga sehat gak gampang sakit dan kurang berat badannya ben nikah nanti bisa ideal berat bedannya.. 😁😁 hekhekhekhek

Siang menjelang sore

Semilir angin, sejuk dan adem..riuh anak-anak di pondok dan hilir mudik orangtua bergantian jenguk buah hatinya. Sedang saya ketawaketawa sama siLisa gegara cerita anak tk yang sedang viral bawa minigp.

Duduk berdua sama bungsu yang kelakuannya tambah hari tambah njelei..

Semoga jalanmu menuntut ilmu selalu diberkahi, diridhoi dan dimudahkan Gusti Allah Swt.

Obrolan tiap minggu yang entah kemanamana, entah cerita apa aja, entah jelas gak jelas..

Semoga dapet kuliahan yang negeri, mondok lagi dan kemanamana lagi..

Aku yang terlalu banyak berharap denganmu, πŸ™†

Good Bye Facebook

Huuuy, lama gak nulis.. πŸ˜„πŸ˜‚

Kemaren-kemaren ngobrol sama Mas Budi tentang edit berita dan something something. Sampe akhirnya ngomongin Facebook yang udah lama gak kuakses. Sembari dia sibuk hapus hapus line ku yang kebanyakan game segala macem.

“Itu facebook gak pernah kubuka apa kuhapus aja ya Mas?”

“Eh, jangan. Itu lo banyak kenangannya. Yang alay itu.” Katanya yang sudah sibuk liat-liat poto facebook jaman embuh. Hahaha

“La gak pernah dibuka je. Takutnya ada yang pake tiba-tiba. Update status yang gak jelas. Kan bisa aja Aku gak tau ternyata ada yang hack.”

“Iya juga ya. Yakin mau dihapus?”

“Iya. Dihapus aja sudah.”

Kupikir memang sudah bukan waktunya lagi berfacebook. Dari kemaren juga ngedit banyak berita tentang facebook. Akhirnya mau sepuluh tahun facebook tamat riwayatnya..hekhekhek

Tengkiyu Facebook sudah membersamai kealayan saya dan segala macem kenjeleian yang mbuh. πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜˜

Status-status yang subhanallah gak penting dan duh, kalau dibaca lagi sungguh bikin ngikik isin. Kok bisa sih bikin status gituan. πŸ˜­πŸ˜‚πŸ˜‚

Chocolato perfecto

 

Dari semua warung kopi yang pernah kudatangi, warung kopi drama ini yang coklatnya paling pas di lidahku.
Jarang aku nemu coklat yang rasanya enak banget. Hot chocolate judulnya di menu. Lalu penjelasan ingredient ada dibawahnya. Vanilla. Hanya itu yang kuingat selain coklat campurannya saat aku memilih menu. Soale seng liyane bahasa inggris dan mbuh apaan πŸ˜‚πŸ˜‚. Biasanya pagi gini aku pengennya kopi. Tapi sehabis dari warung kopi kemaren aku jadi malas karena rasanya yang errrr nggak suka.

“Coklat deh mas satu.” Kataku akhirnya.

“Ice ato hot mbak?” Tanya masnya yang sudah langsung bersiap di mesin kasir.

“Hot aja..” Jawabku sambil merogoh kantongku mengambil uang pecahan dua puluh ribu yang belakangan aku sering ngeluh karena warnanya hampir mirip sama uang yang dua ribuan. Jadi kudu teliti.

“Sama apalagi mbak?”

“Itu dulu aja Mas. Nanti kalo pengen saya pesen lagi.” Kusodorkan uang berwarna hijau yang agak kusut itu.

“Oke. Hot chocolate delapan belas ribu. Kembalinya dua ribu. Silahkan ditunggu pesanannya Mbak. Terima kasih.”

“Sama sama Mas.” Aku nyengir.

Masih pagi, jam sembilan kurang 5 menit. Sebentar aku mengitari pandangan mencari tempat duduk yang nyaman. Langsung aku menuju meja panjang yang nempel di dinding dan lebarnya seukuran laptop 14 inch. Ada tiga buah kursi bulat dan tinggi yang nyaman. Khas warung kopi. Tidak jauh di dinding atas meja itu ada rak dengan beberapa buku, vas kaktus mungil juga sederet pepatah english.

Aku langsung membuka laptop si Mas Budi yang sudah berapa hari ini kugunakan untuk kerja. Online.

“Eh, Mas. Password wifi-nya apa ya?”

“Hidup penuh drama mbak. Huruf kecil semua tanpa spasi.” Jawab Masnya yang masih sibuk nyiapin pesananku.

“Makasih Mas.”

Aku nyengir. Masnya nggak. 😐

Online pas jam 9 tet. Mulai ngerjain berita. Tik tuk tik tuk. 10 menit pesananku dateng.

“Hot chocolate. Silahkan.”

“Makasih..”

Masnya senyum. Aku nggak. πŸ˜…

Baunya enak. Aku menyesap sedikit.

Wiiiihhh.. Uenaaakk rek..
Kusesap lagi. Glek. Enak ik.
Gak terlalu manis, gak terlalu pait. Pas. Perfecto. Coklatnya wangi dan kerasa bangeett.

Hahahaha..
Good mood, endesss pisan coklatnya. Recommended. Nice.

Aku melihat masnya. Dia lagi ngudud di kursi depan. Yah. Desain warung kopi ini memang buat perokok. Mini pantry langsung paling depan melayani pelanggan. Nice mas. Nak nan.

Aku nyengir. Masnya nggak. Ya iyalah wong gak liat kok. πŸ˜‘

Kapan-kapan kesitu lagi? Ndak ah.
Malas.
Biarkan saya punya kesan bahagia karena coklat enak ini sekali aja.
Hehehe
Karena belum tentu besok pas kesana coklatnya enak lagi.hahaha

 

 

2017

Rasa (Saat) Ini

Memaknai

Pemaknaan kita pada sesuatu sering berbatas hanya karena ego atau kemauan. Ego kita yang membuat kita enggan memulai, enggan untuk menyapa dan bertanya, enggan untuk mencari tahu, padahal semuanya tersaji di depan mata. Juga kemauan kita yang surut, semuanya serba mudah, tapi kita enggan beranjak.

Karena kita merasa diri ini lebih baik, seringkali lahir penilaian-penilaian kita kepada orang lain. Padahal, kita belum mencermatinya, hanya sekilas melihat dan mendengarnya. Karena kita merasa sudah cukup, kita enggan untuk belajar lagi dan lagi. Semisal, begitu banyak kajian tersaji di masjid-masjid di kotamu, tapi kamu memilih duduk di rumahmu.

Dan tentang pemaknaan. Barangkali, kita tidak kunjung berhasil mengenali hidup dan jalan yang kita tempuh ini sebab dua hal itu, ego dan kemauan. Pemaknaan kita menjadi buntu, berkutat pada hal-hal yang sama. Di satu sisi kita ingin tahu, disisi yang lain kita malas beranjak. Kita kembali berkutat pada ujian yang serupa berulang-ulang, karena kita merasa sudut pandang yang kita ambil adalah yang paling benar, enggan mencoba melihat dari sisi yang lain. Kita berkutat pada pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya hanya ada di masa lalu, bukan sibuk membenahi hari esok.

Dan kita kebingungan akan kemana hidup ini, rasanya seperti air mengalir. Tapi, kita tidak tahu ke mana mengalirnya. Rasanya seperti angin yang berhembus, tapi kita tidak tahu kemana arahnya.

Hidup menyimpan banyak jawaban yang hanya akan kita temukan dengan cara menjalaninya, meredakan ego, dan mau untuk bersusah payah.

Β©kurniawangunadi

—— Beberapa kali ingin menulis tentang apa yang saat ini benar-benar mengganggu di pikiran. Tapi tak kunjung bisa, berat..
Dan menemukan tulisan ini di tumblr nya @kurniawangunadi, membacanya dan aku hanya terus mengangguk-angguk..

Yess.. this is my feeling right now..Β  T_T

Bicara 4

Suasana waktu itu seingatku biasa saja. Tidak terlalu ramai juga tidak terlalu sepi. Aku membawa kardus berukuran sedang sedang Mas Budi menarik koperku dan tas jinjingku yang diletakkan diatas koper agar mudah menariknya bersamaan.

Setelah ke atm ambil uang kami pun menuju ke bagian keberangkatan. Satu jam sebelum boarding pass. Kami mengambil duduk dekat pintu masuk.

‘Gak ada yang ketinggalan kan?” tanya Mas Budi.

“Nggak ada..” jawabku sambil ngaduk ngaduk tas selempang eiger ukuran sedang. Cek dompet, tiket, hape dan lainlain.

Aku pun deprok seadanya. Di depan dindinh kaca yang memantulkan diriku dan Mas Budi di sana. Ngobrol sambil menunggu waktu. Sampai waktu menunjukkan 50 menit sebelum boarding aku pun beranjak.

“Eh, sebentar..” katanya sambil merogoh saku bagian dalam jaket denimnya.

“Ini buatmu..” katanya lagi.
Tetiba dia mengeluarkan kotak segi panjang kecil warna coklat. Di bagian tutup kotaknya ada tulisan bahasa cina dan selipan setangkai bunga kertas terompet warna putih sepanjang kotaknya lengkap dengan satu helai daun hijaunya. Ups, sorry ya.. Bukan Made in China, tapi Bahasa Cina.

“Apa ini? ” tanyaku setelah kotak coklat itu berpindah ke tanganku. Ku bolak balik.

“Dibuka aja..” Lagi. Katanya.

“Kamu ngelamar aku yaaa?? ” Aku pun ngeledek. Antara serius ngeledek sama serius nanya beneran. Hahaha. Seriously?

“Ih..mana ada. Mosok Aku ngelamar kamu di tempat ginian. ” Jawabnya serius dan gak balik ngeledek.

“Hahahaha…” Aku ketawa. Kubuka kotak kecil coklat lucu yang aku beneran suka.
Hahahahahaha..isinya gantungan kunci panda yang epiiikkk banget.
Berasa pas dibuka dia bilang, ‘Ape Lo!!!’

“Buatku?” tanyaku lagi sambil tetep liatin sipanda.

“Iya. Buatmu. Kamu ati-ati pulangnya. Nanti kalo ada apa-apa langsung ngabarin. Salam buat orang rumah. Jangan sembrono. Barangnya dijagain.” Dan entah apalagi dia ngomongnya. πŸ˜‚πŸ˜‚

” Iya.. Makasih ya dhoo.. ” Kataku.

” Sama-sama. Aku juga makasih. Udah sana gek masuk. ” Katanya lagi sambil mengusap kepalaku beberapa kali.

Kumasukkan sipanda yang lucunya gak kirakira ke tasku. Kutarik koperku dan petugas cek tiket langsung mempersilahkan. Sembari di pengecekan barang Mas Budi masih berdiri di tempatnya. Melihatku. Setelah selesai semuanya Aku melambaikan tangan padanya sambil nyengir gak jelas.

Setelah itu aku balik badan.
Aku pergi pulang.
Dia pergi pulang.

Semoga secepatnya kita pulang bersama.. 🐼🐼

 

 

—- mula agustus πŸ™