Tum To The Mpeng : Seneng :)

 

1490020206186

Tumpeng adalah cara penyajian nasi beserta lauk-pauknya dalam bentuk kerucut; karena itu disebut pula ‘nasi tumpeng’. Olahan nasi yang dipakai umumnya berupa nasi kuning, meskipun kerap juga digunakan nasi putih biasa atau nasi uduk. Cara penyajian nasi ini khas Jawa atau masyarakat Betawi keturunan Jawa dan biasanya dibuat pada saat kenduri atau perayaan suatu kejadian penting. Meskipun demikian, masyarakat Indonesia mengenal kegiatan ini secara umum.

Tumpeng biasa disajikan di atas tampah (wadah bundar tradisional dari anyaman bambu) dan dialasi daun pisang.

Sejarah dan Tradisi

Masyarakat di pulau Jawa, Bali dan Madura memiliki kebiasaan membuat tumpeng untuk kenduri atau merayakan suatu peristiwa penting. Meskipun demikian kini hampir seluruh rakyat Indonesia mengenal tumpeng. Falsafah tumpeng berkait erat dengan kondisi geografis Indonesia, terutama pulau Jawa, yang dipenuhi jajaran gunung berapi. Tumpeng berasal dari tradisi purba masyarakat Indonesia yang memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para hyang, atau arwah leluhur (nenek moyang). Setelah masyarakat Jawa menganut dan dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, nasi yang dicetak berbentuk kerucut dimaksudkan untuk meniru bentuk gunung suci Mahameru, tempat bersemayam dewa-dewi.

Meskipun tradisi tumpeng telah ada jauh sebelum masuknya Islam ke pulau Jawa, tradisi tumpeng pada perkembangannya diadopsi dan dikaitkan dengan filosofi Islam Jawa, dan dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Dalam tradisi kenduri Slametan pada masyarakat Islam tradisional Jawa, tumpeng disajikan dengan sebelumnya digelar pengajian Al Quran. Menurut tradisi Islam Jawa, “Tumpeng” merupakan akronim dalam bahasa Jawaย : yen metu kudu sing mempeng (bila keluar harus dengan sungguh-sungguh). Lengkapnya, ada satu unit makanan lagi namanya “Buceng”, dibuat dari ketan; akronim dari: yen mlebu kudu sing kenceng (bila masuk harus dengan sungguh-sungguh) Sedangkan lauk-pauknya tumpeng, berjumlah 7 macam, angka 7 bahasa Jawa pitu, maksudnya Pitulungan (pertolongan). Tiga kalimat akronim itu, berasal dari sebuah doa dalam surah al Isra’ ayat 80: “Ya Tuhan, masukanlah aku dengan sebenar-benarnya masuk dan keluarkanlah aku dengan sebenar-benarnya keluar serta jadikanlah dari-Mu kekuasaan bagiku yang memberikan pertolongan”. Menurut beberapa ahli tafsir, doa ini dibaca Nabi Muhammad SAW waktu akan hijrah keluar dari kota Mekah menuju kota Madinah. Maka bila seseorang berhajatan dengan menyajikan Tumpeng, maksudnya adalah memohon pertolongan kepada Yang Maha Pencipta agar kita dapat memperoleh kebaikan dan terhindar dari keburukan, serta memperoleh kemuliaan yang memberikan pertolongan. Dan itu semua akan kita dapatkan bila kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh.[butuh rujukan]

Tumpeng merupakan bagian penting dalam perayaan kenduri tradisional. Perayaan atau kenduri adalah wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas melimpahnya hasil panen dan berkah lainnya. Karena memiliki nilai rasa syukur dan perayaan, hingga kini tumpeng sering kali berfungsi menjadi kue ulang tahun dalam perayaan pesta ulang tahun.

Dalam kenduri, syukuran, atau slametan, setelah pembacaan doa, tradisi tak tertulis menganjurkan pucuk tumpeng dipotong dan diberikan kepada orang yang paling penting, paling terhormat, paling dimuliakan, atau yang paling dituakan di antara orang-orang yang hadir. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut. Kemudian semua orang yang hadir diundang untuk bersama-sama menikmati tumpeng tersebut. Dengan tumpeng masyarakat menunjukkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan sekaligus merayakan kebersamaan dan kerukunan.[1]

Acara yang melibatkan nasi tumpeng disebut secara awam sebagai ‘tumpengan’. Di Yogyakarta misalnya, berkembang tradisi ‘tumpengan’ pada malam sebelum tanggal 17 Agustus, Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, untuk mendoakan keselamatan negara.

Lauk-pauk

Tidak ada lauk-pauk baku untuk menyertai nasi tumpeng. Namun, beberapa lauk yang biasa menyertai adalah perkedel, abon, kedelai goreng, telur dadar/telur goreng, timun yang dipotong melintang, dan daun seledri. Variasinya melibatkan tempe kering, serundeng, urap kacang panjang, ikan asin atau lele goreng, dan sebagainya. Dalam pengartian makna tradisional tumpeng, dianjurkan bahwa lauk-pauk yang digunakan terdiri dari hewan darat (ayam atau sapi), hewan laut (ikan lele, ikan bandeng atau rempeyek teri) dan sayur-mayur (kangkung, bayam atau kacang panjang). Setiap lauk ini memiliki pengartian tradisional dalam budaya Jawa dan Bali. Lomba merias tumpeng cukup sering dilakukan, khususnya di kota-kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta, umtuk memeriahkan Hari Proklamasi Kemerdekaan.

Itu saya ambil dari id.wikipedia..hehe baca sampe abis apa nggak? Mesti nggak,,weh weh weh

Jan jane ya emang dudu iku sih yang mau saya ceritakan. Ini lo, tau nggak? Itu poto tumpeng pas aku ulang tahun kemaren tanggal 8 maret hari rabu. Pas bener hari aku libur ngantor. Haha. Apa? Ulang taun yang keberapa? Ih, gak penting tau, yang penting mah jiwa muda. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Jadi ceritanya ada yang bikin surprize ngunu kui pagipagi. Minta tolong sipita bangunin aku yang masih molor dengan modus minta anterin ke pasar mau bikin soto. Preketek. Males2an akunya bangun secara ini libur dan aku pengen mager. Pas itu udah jam 8. Eh, pas ngeluarin motor ada yang udah duduk manis di ruang tamu dengan meja yang atasnya tumpeng ukuran gede, kado sama setas bawaan dari Jombang. Eh, padahal dia beberapa hari pulang dan gak ngabarin udah ke jogja. Malah udah nongol aja disitu. Hahaha. Seneng seneng mangkel. Pengen bejekbejek, nguweknguwek. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Aku ketawa, cengengesan gak jelas sambil duduk di sebelahnya.

“kapan sampe jogja? Kok gak ngabarin?” tanyaku.

“semalem sampe jogja, dari rumah kemaren sore, hahaha. ” jawabnya puas. Iya, puas bikin aku bawel.

Aku yang seneng bingung mau apa nyomotin kering sambel kentang di tumpeng.

“heh..jangan. do’a dulu to. Baru makan bareng2 temen kosmu itu.” sambil nepok tanganku dia ngajakin doa.

Aku mesam mesem njelei spontan bilang, “aku yang do’a dalam hati ya, kamu yang aamiinin. Haha”

“Iya..” katanya sabar.

Aku pun menengadahkan tangan tanda berdoa sambil mejemin mata dan nunduk. Berusaha khusyuk berdoa dengan umurku yang aahh, sudah 25 beh. ๐Ÿ˜… Dia yang baik dan sabar mengucap aamiin beberapa kali di sela aku berdoa, padahal dia gak tau tuh aku do’a apa..hehe

Abis itu aku disuruh manggilin temen2 kosan. Yang ada cuma si aliya, pita sama mbak peti. Yang lain aku bagi2 di piring. Karena belum abis juga aku telpon si ainun sama si farhan makan dikosan. Dan ela yang terakhir kekosan makan nasi kuning. Haha

Seneng? Iya

Bersyukur? Iya

Makasih ridho buat semuanya,

Ya waktunya, kadonya, kejutannya, baik sama temen2ku, dan doanya. Gak tau kenapa aku tau kamu do’ain aku. Entah do’a apaan. Haha.

Makasih karena udah jagain aku, baik sama perhatian ke aku, suka ingetin aku yang keseringan lupa. Hehe. Udah sabar samaku.

Aku bersyukur ketemu kamu,,๐Ÿ˜ Gusti Allah baik ya? Hehe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s