menggenggam kabut

WhatsApp-Image-20160516 (2)

ketika pagi menjelang
pikiran masih melayang
namun hidungku sudah lega tanpa ruang
lega untuk bernafas tanpa meradang

sempurna..
perasaan ini juga sempurna
perasaan kita yang terus tumbuh
entah bagaimana
aku selalu berharap utuh

aku belajar percaya lagi untukmu..
menunggu semua selesai..

🙂

kepastian

karena yang pasti di dunia ini hanya kematian
karena kematian
memang satu-satunya yang pasti di dunia ini..
lalu?
apa yang aku tunggu?
entah..
aku bimbang..

menjejak

WhatsApp-Image-20160516 (1)

ketika hatiku begitu ramai
sehingga gak bisa lagi berpikir jernih
maka aku selalu lari ke ketinggian

dan lihatlah,
mata bengkak begitu..hehe
hasil kelelahan melupakan rutinitas yang njelei
lalu tidur semaleman mendengarkan musik alam
sesekali terdengar deru angin disela-sela canda dan tawa pendaki lain
merdu
mesra
dan rasa bahagiaku menggumpal-gumpal
bercampur kenyamanan yang gak ada bandingannya..

mungkin bagimu berlebihan,
tapi memang itu yang kurasakan…

malam mandangi pendar lampu yang seperti bintang
bintang atas dan bintang bawah
ketika pagi datang
langsung buka sleeping bag, buka tenda
cari tempat buat duduk
hanya duduk
diam
dan menikmati semuanya dengan syukur

terima kasih Tuhan,
untuk semua keindahan yang Engkau ciptakan
:*

 

panggilan pulang

sekian lama gak ketemu,
sekian lama aku gak liat kamu,
dan kabar itu datang begitu mengagetkan bagiku..
kamu berpulang,
kembali kepangkuan Tuhan yang kurasa memang tidak akan membiarkanmu untuk berlama-lama berada di bumi yang busuk ini..

kamu gak cuma cakep tapi juga orang yang perhatian, orang yang baik kak..
sedari dulu..
kenapa sakit itu bisa ada denganmu..

perkenalan kita singkat,
namun catatanku begitu penuh tentangmu, tentang semuanya..
dengan hidung yang mencuat putih dan bangir, lesung pipi yang indah, dan seragammu yang selalu rapi. rahang wajah yang laki banget dan dagu yang bener-bener pas. caramu senyum menjadi penyempurna wajahmu yang emang sudah sempurna, bagiku. hehe..
motor orenmu itu, tiap olahraga maen voly, dan ujian kenaikan kelas yang kambing.
aku hanya bisa diem liat catatan biru ini,,
gak nyangka..
liat poto yang dikirimin itu rasane semua pikiran dulu berputar-putar acak dan cepat dikepalaku..

selamat jalan kak..
berbahagialah di sana..
aku selalu berdo’a untukmu..

cita-cita

senandung senja hari ini berbeda
menyisakan tawa saat bertemu teman lama
menyisakan gundah saat ditanya cita-cita
afu tenan 😀
jawabane gak sejeplak dan segampang pas jaman masih nonton mak lampir sekomplek dulu.
pernah bilang jadi polisi.
pernah juga bilang jadi dokter.
seringnya bilang gak tau. :3
pernah juga pas masih kecil ketika bapak ngisi bensin di pom aku nyeletuk, “aku pengen jadi tukang pom bensin pak! duitnya banyak!!”
bapak cuma ketawa sambil nepok jidatku. haha
 

sebatas asa

segelas teh tubruk kesukaan mengepulkan panasnya
wangi teh melati melonggarkan syaraf-syarafku
angin malam sejuk
berhembus perlahan

hmm..
aku duduk di pelataran kamar kosong
yang sebelumnya dihuni dek ntul
malam ini tidak ada bulan
hanya awan gelap yang berarak
mendung,,

kusesap teh tubruk ini
berharap semua rasa jadi satu
dan hilang bersamaan tegukan
tegukan kelegaan

kupandangi langit
tanyaku muncul bersamaan dengan gemuruh
apa sudah sampai batasnya asa ini??

papringan, Mei 2016